Translate

The History


The
History







PERJALANAN DALAM SEJARAH 

MAHARAJA MAHKOTA II

LAMPUNG KRUI


Silsilah dan sejarah Krui Pesisir Barat Propinsi Lampung dimasa Lalu dan masa kini. Tempat ini terletak di Pesisir Pantai :

Sebelah Timur berbatasan dengan Bukit Barisan Skala Brak, Sebelah Utara Daerah Kaur ( Bintuhan ), Sebelah Selatan membujur sepanjang Pantai Tanjung Cina Belimbing, Sebelah Barat dengan Lautan  Luas ( Samudra Hindia ).


Zaman dahulu ditempat ini banyak terdapat Rumpun Bambu Berduri yang tumbuh sendiri. Kata orang tua, Rumpun Bambu Berduri itu adalah satu tanda, bahwa daerah itu adalah salah satu daerah larangan, atau pada zaman dahulu disebut orang Pagar Pertahanan ( Benteng ). Daerah ini mempunyai Bahasa tersendiri yaitu Bahasa Lampung, maka bambu yang berduri itu, jika kita terjemahkan dalam bahasa daerahnya ( Lampung ) samalah artinya dengan Keroei ( Berduri ), maka daerah ini disebut sebut namanya Keroei ( Krui ). Nama Krui juga diabadikan menjadi nama Jalan di Negeri Belanda ( Krui Sherenstraat ) ( Sumber : Catatan Datuk Indra Alamsyah, Tanggal 25 Desember 1950 ).



Nama Jalan Krui di Belanda


Serta pucuk dari pohon bambu ini asal usul pembuatan motif Pucuk Rebung kain tapis dan pohon bambu nya dibuat sebagai alat perang yaitu Bambu Runcing. ( Sumber : Temegung M. Ali Hanafiah Arda Th. 2018 )




Tapis Motiv Pucuk Rebung


Didaerah ini ada sebuah Kerajaan, Kerajaan Kampung Dalam yang Rajanya merupakan turunan dari Raja Iskandar Zulkarnain Raja Masriq Wal Maqribi.


Silsilah Raja - Raja 


Raja Iskandar Zulkarnain ini memiliki tiga orang anak cucu yaitu 1. Maharaja Diraja Dirajakan di Pulau Mas Sumatra, 2. Maharaja Dipang Dirajakan di Benua Cina dan Maharaja Alif dirajakan di Bandaruhuum. Anak dari Maharaja Diraja Dirajakan Dipulau Mas Sumatra, Maharaja Mahkota Membuka Krui Benua Lampung serta menjadi Raja Pertamanya. 





Manuscrip Asal Mula Lampung

Maharaja Mahkota memiliki Dua Orang anak, anak yang Tertua Maharaja Batara dan meneruskan Kerajaan Kampung Dalam Sebagai Raja serta yang Kedua bernama Maharaja Lela. Maharaja Batara memiliki dua orang anak yang Pertama Maharaja Sifat, yang Kedua Tuanku Ujung. Maharaja Sifat mewarisi ayahnya sebagai Raja berikutnya dan memiliki Dua Orang anak yang Pertama Tuanku Ismail dan Kedua Tuanku Muhamad Almasan. Tuanku Ismail memimpin Kerajaan Kampung Dalam menggantikan ayahnya dan memiliki dua Orang putra, yang pertama Tuanku Alang dan Tuanku Butara. Tuanku Alang menggantikan ayahnya dan memiliki satu orang anak Tuanku Muhamad atau lebih dikenal Datuk Kandang dan Datuk Kandang ini pula yang membuat Perjanjian Gencatan senjata terhadap Kompeni Belanda pada Abad 17 di Benteng Malbrough Bengkulu dengan maksud tidak boleh lagi serang menyerang diatas Cap Stempel Lekeri di Tanda Tangani oleh Meester Coem Serta diketahui oleh Meester Raffles. Setelah  berpulang kerahmatullah Datuk Kandang Maka sebagai gantinya anak yang tertua Maharaja Indra Sebagai Raja. Maharaja Indra memiliki dua orang anak yang pertama Maharaja Mulia yang kedua Datuk Min, Maharaja Indra diganti oleh Maharaja Mulia, Maharaja Mulia diganti Raja Masnur Lubsari atau lebih dikenal Tuanku Muhamad Dalil sebagai Raja Kerajaan Kampung Dalam dan meninggal di Pasar Gedang Ulu di Makamkan di Bah Jejawi sekarang Pasar Kota Krui sebagai pengganti Raja  Kerajaan Kampung Dalam Lampung Krui naiklah anak beliau yang Tertua yaitu Raja Bangsawan Ing Krui termaktup atau tersurat di asal usul Silsilah Kerajaan Majapahit Tanggal 28 September 1925 oleh Radhen Ismail.

  D:\New folder (2)\New folder (2)\IMG-20181118-WA0012.jpg




Dan memiliki dua orang adik yaitu Raja Andika Kasuka Kompeni serta Incik Dayang Norsemi. Selama Raja Bangsawan memerintahkan Kerajaan, Raja Bangsawan Tidak mau membayar pajak kepada Kompeni sehingga Raja Bangsawan ditangkap dan diasingkan ke Bengkulu selama di pengasingan Raja Bangsawan menikah dengan anaknya Sentot Ali Basya dan mempunyai anak Sultan Takdir Ali Syahbana (STA). pada saat Raja Bangsawan di Bengkulu digantikan oleh adiknya Raja Andika Kasuka Kompeni. Pada Abad 17 pertukaran Singapura dengan Bengkulu oleh Kompeni, Raja Bangsawan di pulangkan dan memerintah kembali sebagai Raja. Raja Bangsawan tetap melawan Kompeni tidak mau membayar pajak dan akhirnya Raja Bangsawan di buang ke Tanah Merah Ambon sampai akhir hayatnya di pengasingan, lalu digantikan oleh Anak Beliau yang tertua Merah Hasil dan diteruskan oleh Merah Abdul Muthalib. Dan di dalam Buku Residen Bengkulen tahun 1951 Merah Abdul Muthalib Tercatat sebagai Pembarap di Marga Pasar Krui, Merah Abdul Muthalib inilah yang Memegang Adat, karena Pasirah di Marga Pasar Krui adalah bukan Raja Melainkan hanya sebagai Camat kalau di pemerintahan sekarang sehingga ada pengakuan dari anaknya Pasirah Marga Pasar Krui MUHAMMAD THAMRIN RAZALI KHALIK yang menyatakan MERAH ABDUL MUTHALIB sebagai Penyimbang Adat tanggal 20 November 2001. 



D:\New folder (2)\New folder (2)\IMG-20181119-WA0007.jpg




Merah Abdul. Muthalib wafat Tahun 1971 sedangkan anak beliau sudah wafat terlebih dahulu tahun 1961 yaitu Merah Mahyuddin sehingga Kerajaan Kampung Dalam mulai Fakum tidak ada yang memimpinnya. ( Sumber : Tambo Kerajaan Kampung Dalam ).


Foto Peninggalan Benda Pusaka Kerajaan 

Tetapi Tambo, Slsilah, Prasasti; Pusaka masih tersimpan baik oleh Yahya Mahyuddin dan berdasarkan hasil Kemufakatan Keluarga Besar Kerajaan Kampung  Dalam Lampung Krui Tanggal 26 Februari 2001, NUZUAR Diangkat dan Dinobatkan sebagai Raja Kerajaan Kampung Dalam Lampung Krui dengan Gelar / Adok MAHARAJA MAHKOTA II. dan nantinya diteruskan oleh keturunannya serta tidak bisa diganggu gugat oleh pihak manapun.










Kerajaan Kampung Dalam diteruskan oleh Nuzuar sebagai Raja di Kerajaan Kampung Dalam Lampung Krui, maka pada tanggal 14 Oktober 2017 di Lamban Raja Kerajaan Kampung Dalam Lampung Krui, dilaksanakan Himpun Adat yang dihadiri Penyimbang Kerajaan Kampung Dalam Lampung Krui, untuk kesepakatan dalam kebersamaan Keluarga Kerajaan Kampung Dalam Lampung Krui untuk melaksanakan dan bertanggung jawab.



Himpun Adat

Yang kemudian diundangkan untuk diketahui oleh Masyarakat Adat Kerajaan Kampung Dalam Lampung Krui bahwa Adat Istiadatnya Kerajaan Kampung Dalam Lampung Krui telah dikembalikan kepada sejarahnya.



UNDANG UNDANG ADAT KRUI



UNDANG UNDANG KRUI

Sehingga memiliki ketetapan  Hukum secara Adat Istiadat di Dalam Kerajaan Kampung Dalam Lampung Krui dan untuk dijadikan Dasar Ketetapan Hukum secara nasional di Dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sehingga mendapatkan pengesahan dari Kementerian Hukum dan Hak Azazi Manusia Republik Indonesia No. AHU. 0016079. AH. 01.07 Tahun 2017. 








Lembaga Negara Perintis Kemerdekaan RI / Dewan Adat Nasional RI pada tanggal 27 Februari 2019 mengangkat dan mengesahkan Duli Yang Mulia Maharaja Mahkota II Nuzuar, S.IP. sebagai Raja Kerajaan Kampung Dalam Lampung Krui dengan No surat No 30. Tahun .2019 dan pada tanggal 30 April 2019. Lembaga Negara Perintis Kemerdekaan RI / Dewan Adat Nasional RI mengangkat Duli yang Mulia Maharaja Mahkota II Nuzuar, S.IP sebagai Aparatur Bangsa Indonesia dengan jabatan Kepala Badan Administrasi Negara di Lembaga Negara Perintis Kemerdekaan RI / Dewan Adat Nasional RI dengan No surat No.172/P KRI NKRI/IV/2019.



Sk Pengangkatan dan Pengesahan
LN PKRI /DAN RI SEBAGAI RAJA KERAJAAN KAMPUNG DALAM LAMPUNG KRUI

Kerajaan Kampung Dalam mulai menjalankan kembali Kerajaan dibawah Pimpinan Yang Mulia Maharaja Mahkota II Nuzuar, S, IP Raja Kuasa Wilayah D’Raja Nusantara Pimpinan Penyimbang Kerajaan Kampung Dalam Lampung Krui dengan Perangkat Kerajaan Permaisuri Ratu Kumala Dewa Asnah, S.Ag, S.Pd.I, Putra Mahkota Pangeran Ahmad Diraja Merah Ahmad Kautsar, SH, Temegung Kerajaan Raja Bathin Nursiwan Muhamad Ali Hanafiah Arda, Pangeran Pencalang Raja Benny Fransiskus, sebagai Panglima / Hulubalang Kiri, Pangeran Perbasa Bangsawan Ahmad Nurmansyah, S.Pd. sebagai Mendagri / Gagoman Lampit, Pangeran Raja Mulia Abdul Hakim sebagai Menlu / Penetap Imbor, Pangeran Nata Diraja Niti Efrizal sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan / Hulubalang Kanan, Pangeran Bathin Kusuma Raja Evan Kurniawan, A, Md sebagai Menteri Kebudayaan / pemegang Payung Agung Kebesaran, Pangeran Mangku Bathin Budi Setiawan sebagai Menteri Perhubungan /  Pemegang Alam Gemiser / Kereta Kencana, Dalom Mangku Jaya Hi Aznan, S.Pd sebagai Juru Bicara Kerajaan, Pangeran Mangku Alam Drs. Suardi, MM Duta Kerajaan di Kalimantan Timur. Dalom Sangun Simbangan Raja Arief Umaryadi Duta Kerajaan di Jakarta. Dibawah Pangeran memiliki anak buah dengan Pangkat / Gelar / Adok, Bathin,  Radin,  Tamunggung, Minak, Intan, Mas, Ayumas, Mas Ayu.









  Struktur Kerajaan Kampung Dalam Lampung Krui Susunan Dalam Perjalanan / Siba Raja Dan Ratu

Didalam perjalanan Kerajaan Kampung Dalam Lampung Krui menjalin persahabatan, Kerjasama, dan Pengakuan dengan beberapa Kerajaan / Kesultanan baik di Indonesia, Asia Fasipik dan Dunia diantaranya dengan Kesultanan Mindanau Negara Filipina, Kerajaan Kamakahalei Hawai.




Pada tanggal 27 Februari 2023 Kerajaan Kampung Dalam Lampung Krui tergabung di ROYAL HERITAGE & CULTURAL SOCIETY OCEANIA ( RHCSO ) Sebagai Anggota Kerajaan Yang Terdaftar dan Bersertipikat RHCSO Member - IDN 0102.




Pada zaman penjajahan Krui merupakan salah satu daerah Afdeeling dibawah Resident Bengkulen.


Kantor Controleur Kroe/Krui 1927


Tanah Bekas Kantor Afdeeling Krui Sekarang menjadi kantor DPRD Pesisir Barat

Dari Zaman Dahulu Krui sudah mempunyai pelabuhan yang ramai, banyak kapal – kapal Besar dari berbagai Daerah datang Kepelabuhan Teluk Selalaw Keroei (Krui) yang terletak di Muara Way Balaw Pasar Mulia Sekarang Kelurahan Pasar Krui (Fort kroe).


Pelabuhan Krui


D:\New folder (2)\New folder (2)\IMG-20181118-WA0015.jpg
Pelabuhan Krui



D:\New folder (2)\New folder (2)\IMG-20181118-WA0014.jpg

 Muara Way Balau Pasar Krui

Krui disebut dalam Peta Pelayaran Nusantara pada 1411 M bahwa di Pulau Sumatra hanya terdapat beberapa Kota Pelabuhan Antara Lain, Kota Pelabuhan  Pasee (NAD), Andripura (Indra Pura Riau), Manincabo (Padang Sumbar), LU Shiangshe (Prop. Bengkulu), Krui Liamphon (Lamphong atau lampung), luzupara (Kemungkinan daerah Tulang Bawang / Manggala), Lambay (Jambi), dan nama Negeri Crivayaya terletak di Musi Selebar, (Dikutip dari : Bengkulu Dalam Sejarah Maritim Indonesia).


Krui adalah Ibu Kota Kabupaten Pesisir Barat dimana sebelumnya merupakan bagian dari Kabupaten Lampung Barat. Krui berada di daerah Pesisir, Krui memiliki Potensi pariwisata terutama wisata pantai, potensi krui sebagai daerah tujuan wisata sudah terkenal sampai Mancanegara. Baik wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara, dengan tujuan utama untuk berselancar. Belakangan ini Arus Kunjungan wisata ke wilayah ini semakin meningkat dengan semakin gencarnya promosi, baik didalam negeri maupun diluar negeri, baik melalui media cetak maupun media elektronik, kedepan, wilayah ini diproyeksikan menjadi salah satu tujuan wisata unggulan dengan akan dibukanya lapangan terbang Seray Jalur penerbangan Krui – Radin Intan Lampung Ke Halim Perdana Kesuma Jakarta


D:\New folder (2)\New folder (2)\IMG-20181118-WA0018.jpg



Sebagai sarana transportasi cepat menuju wilayah ini dengan dibukanya Lapangan terbang Seray ini, diharapkan Industri wisata bisa berkembang, menjadi Industri Andalan utama wilayah ini, tempat – tempat yang sering dijadikan tempat wisata dan sering di kunjungi adalah Pantai Labuhan Jukung, Tanjung Setia, Pantai Walur, Pulau Pisang dan Pantai Batu Tihang, Pantai Batu Mirau.


D:\New folder (2)\New folder (2)\IMG-20181118-WA0007.jpg

Labuhan Jukung dan Pulau Pisang


Potensi Sumber Daya Alam yang dihasilkan adalah dari hasil bumi yang sudah dikenal dunia Internasional seperti lada, cengkeh, damar dan kopi.


D:\New folder (2)\New folder (2)\IMG-20181118-WA0009.jpgD:\New folder (2)\New folder (2)\IMG-20181118-WA0038.jpg

Pohon Damar & Getah  Damar


Sumber pendapatan masyarakat kebanyakan dari berdagang, nelayan, bertani serta PNS. Mayoritas penduduk krui adalah penduduk asli ditambah pendatang dari padang, Jawa, Palembang, Batak, Arab dan Cina.


Krui saat ini telah menjadi Kabupaten, sejak di Syahkannya Daerah Otonomi Baru (DOB) Kab. Pesisir Barat, oleh Pemerintah Pusat pada Bulan April 2013 lalu, ada sebelas kecamatan di wilayah Kab. Pesisir Barat yaitu Kecamatan Bengkunat Belimbing, Bengkunat, Ngambur, Pesisir Selatan, Krui Selatan, way Krui, Karya Penggawa, Pesisir Utara, Lemong, Pulau Pisang dan Pesisir Tengah. Ibu Kota Kabupaten Pesisir Barat sesuai dengan UU No. 22 Tahun 2012 tentang Pembentukan DOB Pesisir Barat terletak di Krui yaitu wilayah Kecamatan Pesisir Tengah. Secara kependudukan dapat dipisahkan berdasar wilayah di Karya Penggawa, Way Krui, krui Selatan dan Pesisir Tengah merupakan pusat kota Pelabuhan yang ada di Pesisir Barat sedangkan Kec. Lemong dan Pesisir Utara merupakan wilayah susulan terbuka seiring dengan di bukanya transportasi darat, Pembangunan Jalan dari Krui menuju Propinsi Bengkulu sekitar tahun 1990. Demikian juga dengan Ngambur, Bengkunat dan Bengkunat Belimbing merupakan wilayah baru terbuka, setelah akses Jalan terhubung antara Krui – Kota Agung Tanggamus sekitar tahun 2000 an.


Saat ini krui merupakan ibu Kota Kabupaten Pesisir Barat. Lokasinya krui sangat strategis karena Krui berada di Daerah Pesisir Samudra Hindia. Maka wajar daerah ini memiliki potensi wisata alam bahari yang dilirik oleh wisawatan yang menyukai ombak yang bagus untuk berselancar Selain itu, krui juga  memiliki Ikon kota yaitu Tugu Tuhuk dan Kain Tapis Krui yang di jait atau disulam secara tradisional.


Tugu Tuhuk

Serta memiliki makanan khas pandap, gulai bebat, Kue tart dan Kue Cucur.


D:\New folder (2)\New folder (2)\IMG-20181118-WA0022.jpg



D:\New folder (2)\New folder (2)\IMG-20181118-WA0011.jpg












Terimakasih 



0 Response to "The History"

Posting Komentar