MENGURAI PERADABAN KRUI (KROE) BENUA LAMPUNG - Hello, friend of Maharaja Mahkota II Lampung, in the article you are reading this time with the title MENGURAI PERADABAN KRUI (KROE) BENUA LAMPUNG, we have prepared this article well for you to read and retrieve information from it. which we write, you can understand. Alright, happy reading.


Read it too




𝗗𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗡𝗮𝘀𝗸𝗮𝗵 𝐒𝐮𝐥𝐚𝐥𝐚𝐭𝐮'𝐥-𝐒𝐚𝐥𝐚𝐭𝐢𝐧 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐒𝐮𝐥𝐚𝐥𝐚𝐭𝐮𝐬 𝐒𝐚𝐥𝐚𝐭𝐢𝐧 (𝐬𝐞𝐜𝐚𝐫𝐚 𝐡𝐚𝐫𝐟𝐢𝐚𝐡 𝐛𝐞𝐫𝐦𝐚𝐤𝐬𝐮𝐝 𝐏𝐞𝐧𝐮𝐫𝐮𝐧𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐠𝐚𝐥𝐚 𝐫𝐚𝐣𝐚-𝐫𝐚𝐣𝐚) 𝗺𝗲𝗿𝘂𝗽𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗸𝗮𝗿𝘆𝗮 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗕𝗮𝗵𝗮𝘀𝗮 𝗠𝗲𝗹𝗮𝘆𝘂 𝗱𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗴𝘂𝗻𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗔𝗯𝗷𝗮𝗱 𝗝𝗮𝘄𝗶. 𝗞𝗮𝗿𝘆𝗮 𝘁𝘂𝗹𝗶𝘀 𝗶𝗻𝗶 𝗺𝗲𝗺𝗶𝗹𝗶𝗸𝗶 𝘀𝗲𝗸𝘂𝗿𝗮𝗻𝗴-𝗸𝘂𝗿𝗮𝗻𝗴𝗻𝘆𝗮 𝟮𝟵 𝘃𝗲𝗿𝘀𝗶 𝗮𝘁𝗮𝘂 𝗺𝗮𝗻𝘂𝘀𝗸𝗿𝗶𝗽 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘁𝗲𝗿𝘀𝗲𝗯𝗮𝗿 𝗱𝗶 𝗮𝗻𝘁𝗮𝗿𝗮 𝗹𝗮𝗶𝗻 𝗱𝗶 𝗜𝗻𝗴𝗴𝗿𝗶𝘀 (𝟭𝟬 𝗱𝗶 𝗟𝗼𝗻𝗱𝗼𝗻, 𝟭 𝗱𝗶 𝗠𝗮𝗻𝗰𝗵𝗲𝘀𝘁𝗲𝗿), 𝗕𝗲𝗹𝗮𝗻𝗱𝗮 (𝟭𝟭 𝗱𝗶 𝗟𝗲𝗶𝗱𝗲𝗻, 𝟭 𝗱𝗶 𝗔𝗺𝘀𝘁𝗲𝗿𝗱𝗮𝗺), 𝗜𝗻𝗱𝗼𝗻𝗲𝘀𝗶𝗮 (𝟱 𝗱𝗶 𝗝𝗮𝗸𝗮𝗿𝘁𝗮), 𝗱𝗮𝗻 𝟭 𝗱𝗶 𝗥𝘂𝘀𝗶𝗮 (𝗱𝗶 𝗟𝗲𝗻𝗶𝗻𝗴𝗿𝗮𝗱). 𝗦𝘂𝗹𝗮𝗹𝗮𝘁𝘂'𝗹-𝗦𝗮𝗹𝗮𝘁𝗶𝗻 𝗯𝗲𝗿𝗴𝗮𝘆𝗮 𝗽𝗲𝗻𝘂𝗹𝗶𝘀𝗮𝗻 𝘀𝗲𝗽𝗲𝗿𝘁𝗶 𝗯𝗮𝗯𝗮𝗱, 𝗱𝗶 𝘀𝗮𝗻𝗮-𝘀𝗶𝗻𝗶 𝘁𝗲𝗿𝗱𝗮𝗽𝗮𝘁 𝗽𝗲𝗻𝗴𝗴𝗮𝗺𝗯𝗮𝗿𝗮𝗻 𝗵𝗶𝗽𝗲𝗿𝗯𝗼𝗹𝗶𝗸 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝘀𝗮𝗿𝗸𝗮𝗻 𝗿𝗮𝗷𝗮 𝗱𝗮𝗻 𝗸𝗲𝗹𝘂𝗮𝗿𝗴𝗮𝗻𝘆𝗮. 𝗡𝗮𝗺𝘂𝗻, 𝗻𝗮𝘀𝗸𝗮𝗵 𝗶𝗻𝗶 𝗱𝗶𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮𝗽 𝗽𝗲𝗻𝘁𝗶𝗻𝗴 𝗸𝗮𝗿𝗲𝗻𝗮 𝗶𝗮 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗴𝗮𝗺𝗯𝗮𝗿𝗸𝗮𝗻 𝗮𝗱𝗮𝘁-𝗶𝘀𝘁𝗶𝗮𝗱𝗮𝘁 𝗸𝗲𝗿𝗮𝗷𝗮𝗮𝗻, 𝘀𝗶𝗹𝘀𝗶𝗹𝗮𝗵 𝗿𝗮𝗷𝗮 𝗱𝗮𝗻 𝘀𝗲𝗷𝗮𝗿𝗮𝗵 𝗞𝗲𝗿𝗮𝗷𝗮𝗮𝗻 𝗠𝗲𝗹𝗮𝘆𝘂 𝗱𝗮𝗻 𝗯𝗼𝗹𝗲𝗵 𝗱𝗶𝗸𝗮𝘁𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗻𝘆𝗲𝗿𝘂𝗽𝗮𝗶 𝗸𝗼𝗻𝘀𝗲𝗽 𝗦𝗲𝗷𝗮𝗿𝗮𝗵 𝗦𝗮𝗵𝗶𝗵 (𝗩𝗲𝗿𝗶𝘁𝗮𝗯𝗹𝗲 𝗛𝗶𝘀𝘁𝗼𝗿𝘆) 𝗧𝗶𝗼𝗻𝗴𝗸𝗼𝗸, 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗻𝗰𝗮𝘁𝗮𝘁 𝘀𝗲𝗷𝗮𝗿𝗮𝗵 𝗱𝗶𝗻𝗮𝘀𝘁𝗶 𝘀𝗲𝗯𝗲𝗹𝘂𝗺𝗻𝘆𝗮._ 𝘚𝘶𝘭𝘢𝘭𝘢𝘵𝘶'𝘭 𝘚𝘢𝘭𝘢𝘵𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘳𝘢𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘪𝘭𝘴𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘱𝘢𝘳𝘢 𝘳𝘢𝘫𝘢 𝘥𝘪 𝘬𝘢𝘸𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘔𝘦𝘭𝘢𝘺𝘶, 𝘣𝘦𝘳𝘮𝘶𝘭𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘚𝘢𝘯𝘨 𝘚𝘢𝘱𝘶𝘳𝘣𝘢 𝘬𝘦𝘵𝘶𝘳𝘶𝘯𝘢𝘯 𝘐𝘴𝘬𝘢𝘯𝘥𝘢𝘳 𝘡𝘶𝘭𝘬𝘢𝘳𝘯𝘢𝘪𝘯 𝘥𝘪 𝘣𝘶𝘬𝘪𝘵 𝘚𝘪𝘨𝘶𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨, 𝘗𝘢𝘭𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨. 𝘒𝘦𝘮𝘶𝘥𝘪𝘢𝘯 𝘚𝘢𝘯𝘨 𝘚𝘢𝘱𝘶𝘳𝘣𝘢 𝘥𝘪𝘮𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘔𝘢𝘩𝘢𝘳𝘢𝘫𝘢𝘥𝘪𝘳𝘢𝘫𝘢 𝘥𝘪 𝘔𝘪𝘯𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘣𝘢𝘶, 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘵𝘰𝘬𝘰𝘩 𝘪𝘯𝘪 𝘳𝘢𝘫𝘢-𝘳𝘢𝘫𝘢 𝘥𝘪 𝘬𝘢𝘸𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘔𝘦𝘭𝘢𝘺𝘶 𝘥𝘪𝘵𝘶𝘳𝘶𝘯𝘬𝘢𝘯. 𝘚𝘦𝘭𝘢𝘯𝘫𝘶𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘬𝘪𝘴𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘶𝘵𝘳𝘢 𝘚𝘢𝘯𝘨 𝘚𝘢𝘱𝘶𝘳𝘣𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘬𝘢𝘸𝘪𝘯𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘞𝘢𝘯 𝘚𝘶𝘯𝘥𝘢𝘳𝘪𝘢, 𝘱𝘶𝘵𝘳𝘪 𝘋𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘓𝘦𝘣𝘢𝘳 𝘋𝘢𝘶𝘯, 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘶𝘢𝘴𝘢 𝘗𝘢𝘭𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘯𝘢𝘮𝘢 𝘚𝘢𝘯𝘨 𝘕𝘪𝘭𝘢 𝘜𝘵𝘢𝘮𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘨𝘦𝘭𝘢𝘳 𝘚𝘳𝘪 𝘛𝘳𝘪 𝘉𝘶𝘢𝘯𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘚𝘪𝘯𝘨𝘢𝘱𝘶𝘳𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘶𝘵𝘳𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯, 𝘚𝘢𝘯𝘨 𝘔𝘶𝘵𝘪𝘢𝘳𝘢 𝘥𝘪𝘴𝘦𝘣𝘶𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘳𝘢𝘫𝘢 𝘥𝘪 𝘛𝘢𝘯𝘫𝘶𝘯𝘨𝘱𝘶𝘳𝘢. 𝘚𝘦𝘮𝘦𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘨𝘦𝘭𝘢𝘳 𝘚𝘢𝘯𝘨 𝘕𝘪𝘭𝘢 𝘜𝘵𝘢𝘮𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘣𝘶𝘵 𝘮𝘪𝘳𝘪𝘱 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘨𝘦𝘭𝘢𝘳 𝘚𝘳𝘪𝘮𝘢𝘵 𝘛𝘳𝘪𝘣𝘩𝘶𝘸𝘢𝘯𝘢𝘳𝘢𝘫𝘢 𝘔𝘢𝘶𝘭𝘪 𝘞𝘢𝘳𝘮𝘢𝘥𝘦𝘸𝘢 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘗𝘳𝘢𝘴𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘗𝘢𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘙𝘰𝘤𝘰 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘳𝘪𝘬𝘩 𝟭𝟮𝟴𝟲, 𝘮𝘦𝘳𝘶𝘱𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘔𝘢𝘩𝘢𝘳𝘢𝘫𝘢 𝘥𝘪 𝘉𝘶𝘮𝘪 𝘔𝘦𝘭𝘢𝘺𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘬𝘪𝘳𝘪𝘮𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘥𝘪𝘢𝘩 𝘈𝘳𝘤𝘢 𝘈𝘮𝘰𝘨𝘩𝘢𝘱𝘢𝘴𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘒𝘦𝘳𝘵𝘢𝘯𝘢𝘨𝘢𝘳𝘢 𝘔𝘢𝘩𝘢𝘳𝘢𝘫𝘢𝘥𝘪𝘳𝘢𝘫𝘢 𝘚𝘪𝘯𝘨𝘩𝘢𝘴𝘢𝘳𝘪.[𝟭𝟭] 𝘒𝘦𝘮𝘶𝘥𝘪𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯 𝟭𝟯𝟰𝟳, 𝘈𝘥𝘪𝘵𝘺𝘢𝘸𝘢𝘳𝘮𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘮𝘣𝘢𝘩 𝘱𝘢𝘩𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘴𝘢𝘳𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘣𝘢𝘨𝘪𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘬𝘢𝘯𝘨 𝘈𝘳𝘤𝘢 𝘈𝘮𝘰𝘨𝘩𝘢𝘱𝘢𝘴𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘣𝘶𝘵, 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘣𝘶𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘶𝘭𝘪𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘮𝘶𝘥𝘪𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘯𝘢𝘮𝘢𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘔𝘢𝘭𝘢𝘺𝘢𝘱𝘶𝘳𝘢, 𝘴𝘦𝘳𝘵𝘢 𝘪𝘢 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘨𝘦𝘭𝘢𝘳 𝘮𝘢𝘩𝘢𝘳𝘢𝘫𝘢𝘥𝘪𝘳𝘢𝘫𝘢.[𝟭𝟮] 𝐒𝐞𝐛𝐚𝐠𝐚𝐢 𝐩𝐞𝐰𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐤𝐞𝐤𝐮𝐚𝐬𝐚𝐧 𝐈𝐬𝐤𝐚𝐧𝐝𝐚𝐫 𝐙𝐮𝐥𝐤𝐚𝐫𝐧𝐚𝐢𝐧 𝐝𝐚𝐧 𝐬𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐬𝐚𝐭𝐮 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐭𝐢𝐠𝐚 𝐚𝐡𝐥𝐢 𝐰𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐤𝐞𝐤𝐮𝐚𝐭𝐚𝐧 𝐛𝐞𝐬𝐚𝐫 𝐝𝐢 𝐝𝐮𝐧𝐢𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐬𝐚𝐦𝐚 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐓𝐢𝐨𝐧𝐠𝐤𝐨𝐤 𝐝𝐚𝐧 𝐑𝐨𝐦𝐚𝐰𝐢 (𝐊𝐞𝐤𝐡𝐚𝐥𝐢𝐟𝐚𝐡𝐚𝐧 𝐝𝐢 𝐓𝐮𝐫𝐤𝐢) 𝐰𝐚𝐤𝐭𝐮 𝐢𝐭𝐮. 𝐒𝐚𝐧𝐠 𝐒𝐚𝐩𝐮𝐫𝐛𝐚 𝐩𝐮𝐧𝐲𝐚 𝐚𝐦𝐛𝐢𝐬𝐢 𝐦𝐞𝐦𝐞𝐥𝐢𝐡𝐚𝐫𝐚 𝐤𝐞𝐛𝐞𝐬𝐚𝐫𝐚𝐧 𝐤𝐞𝐫𝐚𝐣𝐚𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚, 𝐤𝐞𝐦𝐮𝐝𝐢𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐞𝐥𝐚𝐣𝐚𝐡𝐢 𝐬𝐞𝐦𝐮𝐚 𝐤𝐚𝐰𝐚𝐬𝐚𝐧 𝐌𝐞𝐥𝐚𝐲𝐮. 𝐈𝐚 𝐦𝐞𝐥𝐚𝐤𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐩𝐞𝐫𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧𝐚𝐧 𝐦𝐮𝐥𝐚𝐢 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐏𝐚𝐥𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐠, 𝐓𝐚𝐧𝐣𝐮𝐧𝐠𝐩𝐮𝐫𝐚 𝐬𝐚𝐦𝐩𝐚𝐢 𝐤𝐞 𝐋𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚 𝐝𝐚𝐧 𝐁𝐢𝐧𝐭𝐚𝐧, 𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐦𝐚𝐬𝐮𝐤 𝐁𝐚𝐭𝐚𝐧𝐠 𝐊𝐮𝐚𝐧𝐭𝐚𝐧 𝐬𝐚𝐦𝐩𝐚𝐢 𝐤𝐞 𝐌𝐢𝐧𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐛𝐚𝐮. 𝐃𝐚𝐫𝐢 𝐬𝐞𝐭𝐢𝐚𝐩 𝐤𝐚𝐰𝐚𝐬𝐚𝐧 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐝𝐢𝐥𝐚𝐥𝐮𝐢𝐧𝐲𝐚, 𝐦𝐚𝐬𝐲𝐚𝐫𝐚𝐤𝐚𝐭 𝐦𝐞𝐧𝐲𝐚𝐭𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐦𝐛𝐚𝐡 𝐬𝐞𝐭𝐢𝐚 𝐬𝐞𝐛𝐚𝐠𝐚𝐢 𝐫𝐚𝐤𝐲𝐚𝐭𝐧𝐲𝐚.[𝟐] 𝐒𝐚𝐧𝐠 𝐒𝐚𝐩𝐮𝐫𝐛𝐚 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐭𝐨𝐤𝐨𝐡 𝐦𝐢𝐭𝐨𝐬 𝐥𝐞𝐠𝐞𝐧𝐝𝐚 𝐝𝐢 𝐁𝐮𝐦𝐢 𝐌𝐞𝐥𝐚𝐲𝐮 𝐤𝐞𝐭𝐮𝐫𝐮𝐧𝐚𝐧 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐈𝐬𝐤𝐚𝐧𝐝𝐚𝐫 𝐙𝐮𝐥𝐤𝐚𝐫𝐧𝐚𝐢𝐧. 𝐈𝐚 𝐦𝐞𝐦𝐢𝐥𝐢𝐤𝐢 𝐛𝐞𝐛𝐞𝐫𝐚𝐩𝐚 𝐯𝐞𝐫𝐬𝐢 𝐜𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐭𝐞𝐫𝐬𝐞𝐛𝐚𝐫 𝐝𝐢 𝐌𝐢𝐧𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐛𝐚𝐮, 𝐏𝐚𝐥𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐠, 𝐝𝐚𝐧 𝐒𝐞𝐦𝐞𝐧𝐚𝐧𝐣𝐮𝐧𝐠 𝐌𝐞𝐥𝐚𝐲𝐮. 𝐃𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐒𝐮𝐥𝐚𝐥𝐚𝐭𝐮𝐬 𝐒𝐚𝐥𝐚𝐭𝐢𝐧, 𝐝𝐢𝐬𝐞𝐛𝐮𝐭𝐤𝐚𝐧 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐭𝐨𝐤𝐨𝐡 𝐢𝐧𝐢 𝐬𝐞𝐦𝐮𝐚 𝐫𝐚𝐣𝐚-𝐫𝐚𝐣𝐚 𝐌𝐞𝐥𝐚𝐲𝐮 𝐝𝐢𝐭𝐮𝐫𝐮𝐧𝐤𝐚𝐧. 𝐒𝐞𝐦𝐞𝐧𝐭𝐚𝐫𝐚 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐓𝐚𝐦𝐛𝐨 𝐌𝐢𝐧𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐛𝐚𝐮, 𝐭𝐨𝐤𝐨𝐡 𝐢𝐧𝐢 𝐝𝐢𝐬𝐚𝐦𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐌𝐚𝐡𝐚𝐫𝐚𝐣𝐚𝐝𝐢𝐫𝐚𝐣𝐚 𝐩𝐞𝐧𝐝𝐢𝐫𝐢 𝐀𝐥𝐚𝐦 𝐌𝐢𝐧𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐛𝐚𝐮.[𝟏] 𝐃𝐢 𝐏𝐚𝐥𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐠, 𝐒𝐚𝐧𝐠 𝐒𝐚𝐩𝐮𝐫𝐛𝐚 𝐝𝐢𝐤𝐢𝐬𝐚𝐡𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐝𝐚𝐫𝐚𝐭 𝐝𝐢 𝐁𝐮𝐤𝐢𝐭 𝐒𝐞𝐠𝐮𝐧𝐭𝐚𝐧𝐠 𝐝𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐢𝐤𝐚𝐡 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐖𝐚𝐧 𝐒𝐮𝐧𝐝𝐚𝐫𝐢𝐚, 𝐩𝐮𝐭𝐫𝐢 𝐃𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠 𝐋𝐞𝐛𝐚𝐫 𝐃𝐚𝐮𝐧, 𝐩𝐞𝐧𝐠𝐮𝐚𝐬𝐚 𝐏𝐚𝐥𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐠.[𝟐] 𝗗𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗻𝗮𝗿𝗶𝗸 𝗮𝗱𝗮 catatan 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝗞𝗲𝗿𝗮𝗷𝗮𝗮𝗻 𝗞𝗮𝗺𝗽𝘂𝗻𝗴 𝗗𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗟𝗮𝗺𝗽𝘂𝗻𝗴 𝗞𝗿𝘂𝗶, 𝘋𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘮𝘢𝘯𝘶𝘴𝘤𝘳𝘪𝘱𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬𝘪 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘒𝘢𝘮𝘱𝘶𝘯𝘨 𝘋𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘓𝘢𝘮𝘱𝘶𝘯𝘨 𝘒𝘳𝘶𝘪, 𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯 𝟭𝟭 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝟭𝟮 𝘔, (𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘳𝘶𝘵 𝘔𝘢𝘩𝘢𝘳𝘢𝘫𝘢 𝘔𝘢𝘩𝘬𝘰𝘵𝘢 𝘐𝘐, Nuzuar S.IP , 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘥𝘪𝘴𝘦𝘣𝘶𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯𝘯𝘺𝘢, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘦𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯 𝟳𝟬𝟬 𝘮) 𝘔𝘦𝘯𝘶𝘳𝘶𝘵 𝘮𝘢𝘯𝘶𝘴𝘬𝘳𝘪𝘱 kuno 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘣𝘶𝘵, 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘵𝘶 anak cucu (𝘚𝘢𝘯𝘨 𝘚𝘢𝘱𝘶𝘳𝘣𝘢 𝘛𝘢𝘥𝘪) 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘳u𝘱𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘒𝘦𝘵𝘶𝘳𝘶𝘯𝘢𝘯 Iskandar zulkarnain yang 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘬𝘢 𝘵𝘢𝘯𝘢𝘩 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘥𝘪 𝘚𝘶𝘮𝘢𝘵𝘦𝘳𝘢, 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘢𝘯𝘢𝘬 cucu𝘯𝘺𝘢, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘯𝘢𝘮𝘢 𝘔𝘢𝘩𝘢𝘳𝘢𝘫𝘢 𝘔𝘢𝘩𝘬𝘰𝘵𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘬𝘢 𝘒𝘳𝘶𝘪 𝗕𝗲𝗻𝘂𝗮 𝗹𝗮𝗺𝗽𝘂𝗻𝗴, (𝘢𝘴𝘢𝘭 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘳𝘶𝘵 𝘮𝘢𝘯𝘶𝘴𝘤𝘤𝘳𝘪𝘱𝘵 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘱𝘶𝘯𝘨 𝘋𝘢𝘭𝘢𝘮) , 𝘋𝘪𝘤𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘭𝘢 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘭𝘢𝘺𝘢𝘳 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘢𝘳𝘪 𝘵𝘢𝘯𝘢𝘩 𝘣𝘢𝘳𝘶, 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬𝘪 𝘱𝘪𝘯𝘨𝘨𝘪𝘳𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘯𝘵𝘢𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘮𝘣𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘢𝘩𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘱𝘢𝘭𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪 𝘸𝘢𝘺 𝘣𝘢𝘭𝘢𝘶 (𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘫𝘪𝘥 AL - 𝘔𝘶𝘫𝘢𝘩𝘪𝘥𝘪𝘯), 𝘥𝘢𝘯 𝘭𝘦𝘣𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘶𝘯𝘨𝘢𝘪 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘪𝘵𝘶 𝟱𝟬-𝟲𝟬 𝘮𝘦𝘵𝘦𝘳. 𝘋𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘬𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘬𝘢𝘮𝘱𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘒𝘢𝘮𝘱𝘶𝘯𝘨 𝘋𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘒𝘳𝘶𝘪. 𝘋𝘢𝘯 𝘯𝘢𝘮𝘢 𝘒𝘳𝘶𝘪 𝘥𝘪𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘦𝘣𝘶𝘵𝘢𝘯 Keroei (Berduri) 𝘥𝘪𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘴𝘦𝘬𝘪𝘵𝘢𝘳 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘱𝘦𝘳𝘢𝘩𝘶 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 di 𝘵𝘶𝘮𝘣𝘶𝘩 rumpun 𝘣𝘢𝘮𝘣𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘶𝘳𝘪. (𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘒𝘢𝘮𝘱𝘶𝘯𝘨 𝘋𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘒𝘳𝘶𝘪, 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘒𝘭𝘢𝘯 𝘔𝘦𝘭𝘢𝘺𝘶 Tua 𝘒𝘢𝘮𝘱𝘶𝘯𝘨 𝘋𝘢𝘭𝘢𝘮 ).Tapi masih terdapat pertentangan dengan beberapa sumber primer sejarah lainnya seperti catatan yang dibuat oleh Portugal dan Belanda. Kemudian Kerajaan Kampung Dalam Lampung Krui, seolah hilang, menurut Maharaja Mahkota II, Nuzuar, S.IP ini dikarenakan zaman kolonial mereka menentang Kolonial, Raja Bangsawan harus dibuang ke Bengkulu dan kemudian dipindah Ke Tanah Merah Ambon. Dan selanjutnya sengaja dihilangkan dari sejarah. Kemudian sejak tahun 1999, Pewaris Tahta Kerajaan Kampung Dalam Lampung Krui Nuzuar S.IP bergelar Maharaja Mahkota II membangkitkan kembali Kerajaan Kampung Dalam dengan nama Kerajaan Kampung Dalam Lampung Krui. Dengan Struktur DULI YANG MULIA NUZUAR, S.IP BERGELAR MAHARAJA MAHKOTA II TUHA PENYIMBANG KERAJAAN KAMPUNG DALAM LAMPUNG KRUI , MERAH AHMAD KAUTSAR BERGELAR PANGERAN AHMAD DIRAJA (PUTRA MAHKOTA) ,, M.ALI HANAFIAH ARDA BERGELAR RAJA BATHIN NURSIWAN SEBAGAI TEMEGUNG , H. ASNAN, S.Pd BERGELAR DALOM MANGKU JAYA SEBAGAI JURU BICARA KERAJAAN, BENNI FRANSISKUS BERGELAR PANGERAN PENCALANG RAJA SEBAGAI HULUBALANG KIRI/ PANGLIMA, EFRIZAL BERGELAR PANGERAN NATA DIRAJA NITI HULUBALANG KANAN/MENHANKAM, AHMAD NURMANSYAH,S.Pd BERGELAR PANGERAN PERBASA BANGSAWAN SEBAGAI MENTERI DALAM NEGERI, ABDUL HAKIM BERGELAR PANGERAN RAJA MULIA SEBAGAI MENTERI LUAR NEGERI, BUDI STIAWAN BERGELAR PANGERAN MANGKU BATHIN SEBAGAI MENTERI PERHUBUNGAN, EVAN KURNIAWAN ,A.Md BERGELAR PANGERAN BATHIN KUSUMA RAJA SEBAGAI MENTERI KEBUDAYAAN , SAMSUAR BERGELAR PANGERAN KENDALI BATHIN, Drs, SUARDI, MM BERGELAR PANGERAN MANGKU ALAM SEBAGAI DUTA KERAJAAN DI KALIMANTAN, ARIEF UMARYADI BERGELAR DALOM SANGUN SIMBANGAN RAJA SEBAGAI DUTA KERAJAAN DI JAKARTA DAN DIBAWAH PANGERAN MEMILIKI ANAK BUAH DENGAN PANGKAT /GELAR/ ADOK BATHIN, RADIN, TAMUNGGUNG, MINAK, INTAN, MAS, AYU MAS, MAS AYU YANG TERTUANG DIDALAM SURAT BERITA ACARA HIMPUN ADAT KERAJAAN KAMPUNG DALAM LAMPUNG KRUI UNTUK KESEPAKATAN DALAM KEBERSAMAAN KELUARGA KERAJAAN KAMPUNG DALAM LAMPUNG KRUI UNTUK MELAKSANANAKAN DAN BERTANGGUNG JAWAB, Ada benang merah yang bisa menghubungkan adalah sebagai berikut :

1. Dalam tradisi Kolonial, hampir dipastikan mereka yang menentang akan dihabisin dan dihilangkan (Sejarah Selalu Ditulis Para Pemenang (Penguasa)

2. Dan kemudian terkait terbentuknya marga marga yang ada di Krui, tentu harus ada yang menaunginya bisa berbentuk Kerajaan atau Kesultanan jauh sebelum Banten, Inggris Dan Belanda menguasai Krui. Artinya harus ada Kerajaan yang menaungi marga marga tersebut, sementara dalam catatan Belanda, sekitar abad 15, dalam dominasi Banten, marga marga sudah ada, Dan pertanyaannya adalah apakah marga marga itu dibentuk Banten atau sudah ada sebelumnya.

3. Dan ini bisa terjawab dalam catatan Belanda tersebut sekitar abad 15 orang orang Jawa dari Kesultanan Palembang yang dikenal sebagai kedjawaiin. Melakukan penyerangan di daerah sukau, buay kanjangan, dan buay blungu, karena kalah perang penduduknya lari beberapa ke Semangka, yang lain ke Gunung Pesagi.Setengah abad kemudian, para pengungsi yang disebutkan terakhir kembali ke wilayah mereka sebelumnya, sekali lagi mendirikan dusun, yang kemudian membentuk dua marga, juga disebut sukau dan kembahang, dan yang wilayahnya melalui hal yang sama.Keturunan sukau dan kembahang disebut dan yang wilayahnya memiliki batas yang sama seperti sebelumnya. Keturunan mereka yang telah membawa ke Semangka kembali ke tempat kelahiran leluhur mereka sekitar abad ke-17 dan menjadi bawahan para pangeran Sukau dan Kembahang yang telah mempersiapkan diri lagi di bawah kedaulatan Sultan Banten. Diajukan; dengan terdiri dari marga : pugung tampak, wei sindi, penggawa lima dan tenumbang yang telah dilindungi dari serangan kedjawaiin, sukau dan kembahang membentuk bagian dari Lampung, Subordinasi dari banten (Kesultanan Banten)

4. Kesimpulannya adalah bahwa Kerajaan Kampung Dalam itu runtuh atau tercerai berai, ataukah Kerajaan Induknya vacum ataukah mereka berdiri sendiri dan tentu ini jadi khazanah yang perlu dikembangkan lagi, karena ternyata Peradaban Krui sudah ada sejak abad ke 6 -7 masehi menurut silsilah Kerajaan Kampung Dalam Lampung Krui yang tercatat dalam Manuskrip Kuno Kerajaan Kampung Dalam Lampung Krui.

Sumber : 

1. Wikipedia, Sulalatu'l-Salatin atau Sulalatus Salatin (Jawi: سلالة السلاطين, secara harfiah bermaksud Penurunan segala raja-raja)[1] merupakan karya dalam Bahasa Melayu dan menggunakan Abjad Jawi. Karya tulis ini memiliki sekurang-kurangnya 29 versi atau manuskrip yang tersebar di antara lain di Inggris (10 di London, 1 di Manchester), Belanda (11 di Leiden, 1 di Amsterdam), Indonesia (5 di Jakarta), dan 1 di Rusia (di Leningrad). 

2. “ Bijdrage Tot De Geograpische, Geologische En Ethnograpische Kennis der Afdeeling Kroe” (OL Helfrich Desember 1886).

3. Manuskrip Kuno yang dimiliki Kerajaan Kampung Dalam lampung Krui.

4. Laporan Residen Benkoelen C.L Westenek, Memorie Van Overgave Van Den Afterdenden Resident Van Benkoelen


Past stories MENGURAI PERADABAN KRUI (KROE) BENUA LAMPUNG this time, hopefully can benefit you all. okay, see you in another article posting.

in the article you are reading this time with the title MENGURAI PERADABAN KRUI (KROE) BENUA LAMPUNG with the link address


Posting Komentar